Wooooowwww, udah lama banget gak update blog. Satu karena males, haha, dan mungkin karena udah agak bosen ngeblog. Kadang emang begitu ya, sesuatu yg dilakukan terus menerus akan membuat bosan, dan perlu rehat sejenak, Yatapi gak sampe hampir 2 tahun juga ya.
Ok, di tulisan kali ini saya akan menceritakan pengalaman mengikuti wisata edukasi yang keren banget, cuma sayangnya agak terlupakan dimakan jaman, Kali ini saya akan menceritakan tentang wisata Tea Walk yang terdapat di area Gunung Mas Puncak, Bogor, Jawa Barat. Sebelumnya Terima Kasih sudah membaca Blog ini, semoga blog ini selalu bermanfaat untuk teman-teman yang mencari referensi wisata.
Perjalanan dimulai dari Jakarta pukul 7 lewat, ternyata walaupun sudah ada peraturan ganjil genap, Jalur Puncak tetap saja macet (2 Oct 2021). Mungkin karena orang-orang sudah sangat ingin berwisata karena pandemi ini.
Kami sampai di pintu gerbang gunug mas sekitar jam 10.30, kami memutuskan untuk berhenti sejenak meluruskan kaki sekaligus ngemil di Tea Corner cafe, sebuah cafe mungil yang terletak setelah pintu Gerbang kawasan Gunung Mas.
Cafe ini milik manajemen Gunung Mas Juga. Harga Makanannya termasuk cukup murah untuk sebuah kawasan wisata, Saya membeli Bakso seharga 15 ribu, dan Teh Hijau Hangat Yang rasanya sangat fresh seharga 5 ribu saja.
| Menu Di Tea Corner Cafe Gunung Mas Puncak |
Suasana Siang itu agak berawan, sangat sejuk dan tidak panas. Pemandangan sekitar cafe juga memanjakan mata, hamparan kebun teh menghampar di sekitar Cafe ini, sangat menyegarkan tubuh dan jiwa.
Setelah makan dan tenaga terisi, kita lanjut menuju kantor pemasaran, dari Tea Corner hanya maju sekitar 200 meter. Kami memarkirkan mobil di sebelah kantor pemasaran, masuk ke dalam hanya ada 1 orang berjaga dan sedang melayani tamu yang menanyakan harga sewa vila, yup disini juga ada penginapan yang bisa disewa, mulai dari jenis tenda sampai villa 4 kamar. Untuk harga silahkan di telpon langsung ke bagian marketingnya ya.
Kami bertanya mengenai tea walk beserta harganya. Ternyata jika mau sendiri dan tanpa pemandu bisa gratis. Kalau mau pemandu Harganya adalah 75 Ribu rupiah. Rute yang bisa dipilih adalah 4 , 6, dan 10 KM. Karena membawa anak, kami memilih rute 4 KM saja.
Setelah membayar secara cash(bisa juga non tunai dengan debit), kami menunggu sejenak untuk staf marketing memanggil pemandu, tidak lama hanya sekitar 10 menit. Kami berkenalan dengan pemandu bernama pak (aduh saya lupa namanya) kita panggil pak pemandu saja ya, usianya sudah 62 tahun dan merupakan pensiunan karyawan pabrik teh saat masih beroperasi.
Sebelum perjalanan dimulai pak pemandu bertanya mau rute yang mana, kami menjawab 4 KM saja, boleh jawab pak pemandu, tapi kalau sudah agak lelah dan mengakhiri tur bisa lebih cepat lanjutnya. Wah, sesuai sekali dengan kami yang membawa anak kecil, yang sewaktu-waktu bisa capek dan minta gendong. hehehe.
Kami memulai perjalanan melewati rumah warga sekita yang juga merupakan karyawan perkebunan, sepanjang perjalaan pak pemandu bercerita kehidupannya. Beliau sudah 3 generasi menempati lokasi kebun teh, kakeknya bahkan sudah tinggal di sana sebelum kebun teh dibuka oleh Belanda.
Tidak sampai 10 menit kami sampai di hamparan perkebunan teh, walaupun Pabriknya sudah tidak aktif tapi pohon teh disini masih banyak yang dirawat sehingga tertata rapih. Pak pemandu mulai menjelaskan beberapa jenis teh, dan di perkebunan Gunung Mas Puncak hanya ada 1 jenis pohon teh, Tapiii satu pohon ini bisa dijadikan bermacam teh mulai dari Teh Putih, Teh Hijau, Teh Hitam, dan Teh Oolong. Tergantung cara pengolahannya.
Teh yang biasa kita konsumsi itu termasuk teh hitam. Oh iya, Pak Pemandu juga menjelaskan berbagai macam khasiat teh mulai dari penghancur kolestrol hingga menjaga supaya kulit awet muda jika diminum rutin, Tentu saja dengan catatan diminum tanpa GULA, dan jika ingin manis bisa ditambah madu alami saja. Menarik Sekali dan penyampaiannya sangat informatif, anak saya yg berumur 5 tahun antusias mendengarkan.
Sepanjang perjalanan pemandangan wahhhhh J.U.A.R.A abisss. pegunungan dan lembah terlihat jelas, cuaca hari itu juga mendukung, cerah berawan sehingga tidak terik dan membuat zachan tidak tantrum karena kepanasan.
Tapiiiii sayang banget nih banyak sampah plastik bekas snack dan botol yang ditinggal begitu saja oleh orang bodoh dan tidak bertanggung jawab. Pak pemandu pun memberi komentar, "tidak semua orang yang berwisata pintar". Sayapun juga kesal oleh manusia (kalau masih bisa disebut itu) yang merusak alam. Hufttt
Selain kebun teh, disini juga ada pohon kayumanis yang tumbuh subur, kami berhenti sejenak di saah satu pohon. Pak pemandu mulai mencongkel sedikit kulitnya, kami mencium kulit pohon itu dan wah, wangi sekali. Pak pemandu menjelaskan bahwa kulit pohon kayumanis ini enak jika dicampur ke teh, apalagi yang masih fresh setelah dari pohon. Kami hanya bisa membayangkan rasa teh enak itu, enak juga ya tinggal dekat dengan alam.
Proses pengeringan kulit pohon kayu manis ini tergantung cuaca, jika sedang panas bisa kering hanya dalam 1 hari dan siap dicampur ke makanan atau minuman. Tapi jika sedang mendung bisa memakan waktu 3 hingga 7 hari.
Kami berjalan semakin jauh ke dalam perkebunan, jalan mulai mendaki. Kami mulai kesulitan mendaki, tapi tidak bagi pak pemandu. Walaupun usianya sudah 60 lebih, tapi beliau masih sangat sehat dan tidak kesulitan berjalan di trek menanjak dan berbatu.
Di tengah jalan beliau berhenti dan menyuruh kami diam, kami kira ada sesuatu yang berbahaya, Tapi ternayata beliau menyuruh kami mendengarkan suara lebah yang memang diternakan oleh warga sekitar. Hasil madunya dijual, tapi memang dengan harga yang agak lumayan karena bisa dijamin madu asli tanpa tambahan, bahkan saat ada pembeli, penjual langsung memeras madu dari sarangnya di depan pembeli.
Di sebuah persimpangan pak pemandu berhenti dan menanyakan masih mau lanjut atau memotong rute, kami memilih memotong rute saja karena tidak terasa sudah 1 jam kami berjalan menyusuri kebun teh ini.
Di rute pulang kami melewati kebun alpukat, pak pemandu kembali menjelaskan proses dari bibit sampai alpukat siap dipanen yang ternyata bisa memakan waktu 5 tahun. Kami juga melewati pohon teh yang sudah tumbuh lebih dari 3 meter.
" fun fact : pohon teh dapat tumbuh tinggi seperti pohon biasa, yang ada di perkebunan dan dirawat hanya setinggi 1 meter karena dipangkas rantingnya untuk memudahkan pemetik daun teh"
Tidak terasa 2 jam kami sudah berjalan, dan kami sampai di tujuan akhir yaitu gedung pabrik yang sudah tidak beroperasi. Pak pemandu bercerita saat masih beroperasi, pabrik dapat memproses sekitar 20-40 ton dauh teh sehari. Pak Pemandu juga bercerita kenapa pabrik teh ini ditutup, Kalau mau tahu cek di Reel Instagram @wianwee ya. hehehe, jangan lupa follow juga.
Garis finis dari wisata ini ada di kantor pemasaran, sesampainya disana kami berterima kasih kepada pak Pemandu, dan tidak lupa memberikan tips yang walaupun tidak seberapa, tapi bisa membantu dapur pak pemandu tetap ngebul.
-----Sekian-----
Epilog :
Di masa pandemi ini, pendapatan warga yang bergantung dari wisata sangat berdampak, penurunan pendapatan mereka bisa mencapai 80% karena orang-orang seperti pak pemandu ini hanya pekerja lepas yang dibayar jika ada peserta tur.
Kita semua pasti berharap untuk Pandemi ini cepat selesai dan pulih seperti sedia kala. Dan di masa seperti ini, saya menghimbau untuk memajukan dulu wisata lokal seperti Tea Walk di gunung mas ini. Wisatanya sangat edukatif untuk anak-anak, dan juga biayanya sangat murah.
Jadi mari saling mendukung sesama dengan berwisata Lokal.
Terima Kasih sudah membaca, semoga kalian semua selalu sehat
Komentar
Posting Komentar